BAHASAKU MY NATIVE TONGUE


Imam Shamsi Ali, Ketua Komunitas Muslim Indonesia di New York, Dianugerahi Penghargaan AACUSA (Asian American Coalition USA) Inc. Hall of Fame Tahun 2010.

2 SEPTEMBER 2010

Nama-nama peraih anugerah penghargaan AACUSA (Asian American Coalition USA) Inc. Hall of Fame 2010 tersebut, diumumkan dalam suatu upacara di Auditorium Pusat Komunitas dan Kuil Agama Hindu di Flushing, New York, pada tanggal 18 September lalu. Acara yang diadakan untuk kedua kalinya itu, berupa penghargaan kepada tujuh orang terkemuka yang mewakili
komunitas-komunitas Asia di Amerika Serikat, antara lain seorang cendekiawan Quran kelahiran Indonesia yang diakui dedikasi dan kontribusinya dalam penjangkauan antar agama (interfaith outreach). Dalam acara itu juga ditampilkan pertunjukan budaya dari beberapa negara anggota.

Dalam kata sambutannya, Imam Shamsi Ali, Ketua Komunitas Muslim Indonesia New York mengatakan: “Saya bersyukur kepada Allah Subhana Wa Ta’ala atas kesempatan yang telah diberikan untuk melayani komunitas saya. “Saya merasa bangga sebagai orang Indonesia yang mendapat kehormatan dapat bekerja sama dengan para pemimpin agama lainnya untuk menjembatani kesenjangan di antara umat Muslim dan non-Muslim sebab, walaupun kita memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda, dalam beberapa hal tertentu kita memiliki persamaan dan tetap bersatu. Warisan budaya yang kita miliki itu menjadikan kita sebagai individu-individu yang sungguh unik sekaligus sebagai satu kelompok secara keseluruhan.”

[Klik disini untuk berita selengkapnya atau http://masjidalhikmahnewyork.org/]

———————————————————-###—————————————————

5 JULI 2009

Ini adalah tulisan pertama saya dalam bahasa Indonesia.

Saya akui, untuk sekian lama niat menulis dalam bahasa Indonesia belum bisa terwujudkan. Padahal bahasa Indonesia adalah bahasa Ibu.

Sebelum saya pelajari dan hafal abjad “A, Be Ce, De ..” saya sudah mengerti apa arti “mimi susu,” dan kata-kata singkat lainnya yang sebagaimana diucapkan oleh anak balita karena itulah yg ditiru olehnya dari seorang Ibu atau lingkungannya.

Namun, berhubung sejak usia 13 tahun saya dan keluarga pindah ke Amerika, lama kelamaan bahasa Ibu itu berubah menjadi bahasa asing. Walaupun setiap hari saya bicara dalam bahasa Indonesia dengan keluarga, saat menginjak luar pintu rumah, bahasa Ingrislah yang sering saya gunakan. Secara otomatis.

Saya akui, sangat disesali bila kebiasaan ini kelak membuat saya lupa dengan bahasanya sendiri. Padahal bahasa Indonesia itu sangat indah, suatu budaya yang patut di jaga yang kelak saya turunkan pada anak saya. Malu dong, orang Indonesia tulen tidak bisa fasih berbahasa Indonesia.

Rupanya anak saya yg kini menginjak usia 4 setengah tahun baru mampu memahami bahasa leluhurnya dan belum dalam level konfersasi. Kerap kali ia menjawab atau memulai pembicaraan dalam bahasa Ingris: lahir di Amerika, berteman dengan anak-anak Indonesia yg selalu berbahasa Ingris dan sekolah dengan bahasa pengantar Ingris di campur Arab.

Saya baru sadar. Betapa salahnya bila suatu saat anak saya nanti sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Coba tengok, sekarang saja ia selalu bilang “I love you Mommy Arrgghitha.” CADEL! Aduh …

Akhir-akhir ini, saya selalu berusaha untuk membiasakan bercakap dengan anak saya dalam bahasa Indonesia. Saat ia menjawab dalam bahasa Ingris, saya selalu katakan, “Langen, Bahasa Indonesia dong, sayang!” Alhamdulillah, ia menjawab dalam bahasa Indonesia.

“Aku mau makhan chicken,” atau “Tidhak, aku mau pelgi ‘what is go to the park, Mommy?'”

Insya Allah, sedikit demi sedikit anak saya akan mahir berbahasa Indonesia. Ini suatu tanggung jawab saya dan suami saya untuk menjaga warisan mulia keluarga kami, sebagai bangsa Indonesia, tentunya. Mau dikatakan tinggal di Eskimo kek, Russia Kek, tetap dalam tubuh mengalir darah Indonesia. Ya, toh?

Seorang teman berkata, “Ah, nanti juga bisa kok ngomong bahasa Indonesia. Masih kecil ini. Biarkan dia pegang satu bahasa dulu.”

Celotehan di atas ini sempat menyengat sanubari saya, berhubung saya sendiri merasa kurang PD dengan bahasa Ibu. Tepatnya: saya kurang PD menulis dalam bahasa Indonesia.

Berbicara dengan bahasa Ibu, saya mampu dan lancar; hanya dalam urusan menulis saya wajib pelajari kembali penggunaan grammar Indonesia. Ternyata menjadi seorang translator cukup beda dengan peran seorang interpreter, apa lagi seorang dual linguists: native Indonesian and English speaker.

Bahasa Sunda saya faham dan Tiasa sasauran Sunda little by little lah. Bahasa Jawa saya pun mengerti walau tidak sepenuh pemahaman saya dalam berbahasa Sunda. Aku tresno karo panjenengan. Aiih…

Berbahasa Indonesia. Ini suatu cita-cita saya untuk menulis cerita dalam bahasa Ibu. Semoga hasilnya akan bermanfaat bagi teman-teman di Indonesia maupun Amerika, atau ditengah-tengah kedua benua ini.

Ceritanya begini deh … “uneg-uneg” saya.

— bersambung!


2 Responses to “BAHASAKU MY NATIVE TONGUE”

  1. Bravo Arita, ternyata kamu masih Indonesia ya. Masih bisa bahasa sunda ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
<span>%d</span> bloggers like this: